Parakan, Temanggung, Kendal dan Wleri dalam
memori saya, pada 1970-1980-an dikenal
sebagai sentra penghasil tembakau rajangan
berkualitas tinggi. Namun sejak 1990-an saya
tak lagi begitu tahu perkembangannya karena
pada 1993 saya merantau ke tanah Deli dan
menetap di Medan. Kedua orangtua saya, yang
sudah almarhum dan kedua kakak saya yang
tinggal di kampung tak meneruskan bisnis
tembakau yang pernah dilakoni orangtua.
Saya sendiri lahir dan besar di desa Ajibarang,
sekitar 18 kilometer arah utara kota keripik
Purwokerto. Saya anak paling bontot dari tiga
bersaudara. Di kalangan perokok di daerah
saya, terutama para petani di pedesaan
Banyumas, cita rasa tembakau rajangan dari
ke empat daerah itu dikenal ciamik. Para
penggemar “cerutu kampung” alias rokok
lintingan itu menamakannya “mbekok”.
Ibaratnya kalau seseorang makan siang dan
perutnya terasa kenyang, dan pita suara di
kerongkongan sampai mengeluarkan suara, itu
disebut “nendang”. Mbekok itu membuat dada
perokok serasa ada palu godam yang
memukulnya. “Harus sampai terasa deg, itu
baru disebut mbekok.” Nah, kurang lebih
begitulah gambaran kepuasan para petani
ketika mengisap dalam-dalam “cerutu
kampung” itu.
Tak heran jika pada masa itu, walau ekspansi
rokok kretek sudah luas, dan mereka banyak
memberi iming-iming hadiah berupa peralatan
rumah tangga ketika melakukan promosi di
alun-alun pada malam hari yang terkadang
juga disertai pemutaran film bisu, namun minat
untuk merokok kretek masih rendah. “Rokok
kretek rasanya terlalu ringan, nggak puas
rasanya”, begitu alasan yang saya dengar. Tak
heran ayah saya kalau bepergian ke luar kota,
walau di sakunya ada rokok kretek, namun jika
rekanan yang dikunjungi menyediakan
tembakau rajangan dan kemenyan, beliau lebih
suka memilih mematikan rokok kretek dan
melinting tembakau yang disediakan tuan
rumah.
Namun walau kedua orangtua jualan tembakau,
ayah dan abang saya juga perokok berat,
namun saya sendiri bukan perokok, bahkan
sampai sekarang. Memang sekali-sekali pernah
juga ikut melinting dan mengisapnya, namun
karena hanya rasa pahit yang terasa dan
malahan jadi tersedak, maka saya putuskan
untuk tak dilanjutkan. Memang susah kalau
sudah soal rasa atau selera.
Diracik dengan Kemenyan, Klembak dan
Wuwur
Rokok linting itu sendiri biasanya berupa
tembakau rajangan yang dibungkus selembar
kertas tipis seukuran sekitar 6×10 centimeter.
Orang Banyumas menyebutnya papir. Inilah
bungkus rokok lintingan paling terkenal saat
itu. Disamping itu ada kawung, atau klaras
jagung istilah Banyumasannya. Klaras jagung
atau kawung itu daun jagung yang telah
dikeringkan dan digunakan untuk melinting
tembakau garangan.
Tembakau garangan ini bentuknya seperti
wajik berpetak-petak, warnanya hitam pekat,
dengan ketebalan sekitar lima centimeter.
Namun penggemar tembakau rajangan waktu
itu sangat terbatas, dibanding tembakau
rajangan yang dilinting dengan papir itu.
Sebutan papir mungkin berasal dari bahasa
Inggris paper. Mungkin karena lidah orang
Banyumas susah melafalkan “piper”, maka
untuk mudahnya mereka melafalkan sebagai
“papir”.
Kertas papir itu ada dua jenis rasanya. yang
satu tawar dan yang lain manis. Namun
perokok klinting umumnya lebih suka memakai
papir tanpa rasa. Satu pak papir berisi 20-40
lembar papir. Papir yang terkenal waktu itu
bermerk “Sinden” karena kertas pembungkus
luarnya memang ada gambar seorang
pesinden. Sedangkan kawung biasanya
digunakan untuk tembakau.
Tembakau rajangan yang sudah digelar di atas
papir umumnya ditambah kemenyan yang
sudah dijadikan remah-remah, terkadang ada
juga yang menambahkan dengan remah-remah
klembak. Klembak adalah akar dari tumbuh-
tumbuhan yang biasa digunakan untuk bahan
wewangian. Bentuk, besar dan panjangnya
seperti ruas jari telunjuk orang dewasa.
Warnanya coklat tua. Para perokok biasanya
menggunakan pisau kecil, atau kuku jari jempol
untuk mengopek kelembak. Biar rasa rokok
lintingan menggigit ujung lidah, maka perokok
lintingan juga kerap mencampurnya dengan
wuwur, ini daun cengkeh yang telah ditumbuk
halus.
Baru setelah itu, tembakau bersama kemenyan,
wuwur dan klembak dilinting.. Jadilah rokok
lintingan. Kemenyan itu fungsinya supaya api
rokok tidak gampang mati, disamping untuk
menambah cita rasa seperti juga fungsi
klembak. Juga untuk menimbulkan aroma
wangi. Konon para petani di sawah bisa
bertahan berjam-jam bekerja tanpa merasa
lapar jika rokok lintingan yang diisapnya
“mbekok”.
Pada masa jayanya, di Banyumas banyak
pedagang tembakau rajangan yang menjual
barang dagangan mereka di pasar-pasar
tradisional. Kedua orangtua saya almarhum,
termasuk diantara mereka. Mereka berdagang
tembakau sudah sejak 1970, waktu itu saya
sudah duduk di bangku TK di kampung saya,
Ajibarang. Para pedagang tembakau rajangan
itu mengambil tembakau langsung dari para
pedagang pengumpul di keempat daerah
tersebut, yang umumnya aktif menawarkan ke
sejumlah pedagang pengecer. Orangtua saya
menyebut mereka “orang wetan”.
Wetan itu artinya timur. Memang secara
geografis keempat kota penghasil tembakau
rajangan itu terletak di sebelah timur
kabupaten Banyumas. Sebutan orang wetan
juga karena dialek bahasa Jawa mereka yang
terdengar halus, seperti gaya bahasa Jawa
orang Solo, berbeda dengan bahasa
Banyumasan yang ngapak-ngapak dan
terdengar kasar di telinga.
Pada masa itu, tembakau rajangan dikirim
dalam bentuk keranjangan, atau disebut bal-
balan. Keranjang itu terbuat dari anyaman
bambu dan dibungkus kulit pohon pisang yang
telah dijemur dan dikeringkan. Orang
Banyumas menyebutnya gedebogan pisang.
Fungsi gedebogan untuk membuat tembakau
tetap lemas atau lembut selama beberapa hari.
Jika tembakau kering, maka harganya menjadi
sangat murah.
Nah keranjang bekas pembungkus tembakau
itu, jika batang-batang bambunya kokoh, maka
dapat difungsikan untuk kandang ayam atau
burung dara. Sedangkan debogan batang
pisang yang kering itu dijadikan bahan bakar di
pawon untuk pengganti kayu bakar. Pawon
adalah tungku yang terbuat dari tanah liat
yang digunakan sebagai tempat menaruh teko,
dandang atau panci untuk kegiatan masak-
memasak sebelum era penggunaan kompor.
Satu keranjang tembakau beratnya rata-rata 50
– 60 kg. Tapi terkadang ada yang mencapai 80
kg bahkan 100 kg. Tembakau-tembakau itu
dikirim dengan menggunakan truk. Satu truk
bisa memuat sampai 50 keranjang. Begitu truk
sampai ke tempat pengiriman, maka puluhan
kuli angkut, disebut juga “kuli tagog”, dengan
menggunakan pundak atau bahu mereka yang
kokoh dan kekar berebut untuk menurunkan
dan memasukan keranjang tembakau ke
gudang milik pedagang tembakau. Pedagang
tembakau, biasanya akan menggunakan daun
jati untuk melapisi tembakau-tembakau setelah
keranjang tembakau dibuka.
Daun Jati untuk Memerahkan Tembakau
Pada tahun 1970-an pohon jati masih banyak
terdapat di hutan-hutan yang ada di daerah
Tipar, sebuah kawasan hutan yang terletak
sekitar 10 kilometer arah selatan Ajibarang ke
Kota Cilacap, sebuah kota nelayan yang juga
dikenal berdekatan dengan Pulau
Nusakambangan. Inilah pulau di tengah laut
dimana terdapat penjara terkenal karena dihuni
penjahat-penjahat kakap.
Daun jati banyak dipakai untuk membungkus
tembakau agar warna tembakau menjadi
semakin merah kehitaman. Daun-daun jati itu
sendiri dibeli dari para pemetik daun jati, yang
menjualnya secara kiloan. Satu ikat daun jati
beratnya mencapai 20-30 kg. Saya masih
ingat, ketika SD, bersama beberapa teman
sekampung, pada pukul 04.00 dini hari, kami
sering lari pagi ke arah kawasan hutan jati itu.
Kabut pagi biasanya selalu menyergap kami.
Nah, dalam keremangan kabut pagi itu, kami
sering menyaksikan beberapa penjual daun jati
tengah memanggul gulungan daun jati.
Para pemetik daun jati itu jalan berbaris
menuju ke pasar tradisional Ajibarang untuk
menjual dagangan mereka. Pada waktu itu,
daun jati memang tak hanya dimanfaatkan
untuk tembakau, tapi juga banyak digunakan
sebagai pembungkus barang-barang sembako,
termasuk daging sapi. Penggunaan kantong
plastik waktu itu memang belum dikenal.
Begitulah sejarah ingatan saya terhadap
“cerutu rakyat” alias rokok lintingan yang
dalam pemahaman saya, telah menimbulkan
mata rantai perdagangan yang cukup panjang.
Ada pedagang kemenyan, klembak industri
papir, pengrajin wuwur daun cengkeh, kuli
angkut, pengrajin keranjang, pedagang daun
jati sampai pedagang sirih. Perdagangan ala
rakyat itu berdenyut karena jasa para petani
tembakau!
Tentu, saya sekarang ini, saya sudah tak lagi
tahu keberadaan mereka.
Home » Artikel » Rokok Lintingan itu Harus Mbekok!
0 komentar
Silahkan Beri Komentar Saudara...