Harga rokok bermerek
produksi industri besar kian melambung.
Kisarannya antara Rp12.500 – Rp14.000 per
bungkus dengan isi 12 batang. Dan pastinya
harga ini tidak akan turun lantaran pemerintah
selalu menaikkan cukai.
Menyiasati harga rokok yang terus naik ini,
beberapa orang memilih beralih pada rokok
alternatif. Rokok alternatif tersebut, terpisah-
pisah antara tembakau, kertas sigaret, dan
cengkehnya. Jadi perokok harus melinting
sendiri, atau sering disebut “Tingwe” atau
“ngelinting dewe”.
Salah satu penggemar rokok “Tingwe” ini adalah
Kirman (35) yang langganan membeli tembakau
cap Jangkar di toko cerutu dan tembakau
“Wiwoho” dengan lokasi di persis sebelah barat
Tugu Yogyakarta, pojok utara jalan.
Tembakau cap Jangkar itu dibungkus plastik
yang disegel dengan lem. Satu pack seberat 85
gram dengan harga Rp5.500. Dia juga biasa
membeli kertas sigaret yang satu ikat kecil
hanya Rp500. Satu lintingan kertas sigaret ini,
menghasilkan sebatang rokok berukuran hampir
sama dengan produksi industri besar yang sudah
punya nama.
Kirman melinting kertas diisi tembakau itu kecil-
kecil, hampir seukuran batang rokok biasa.
“Dengan dilinting kecil-kecil, bisa jadi sekitar dua
bungkus rokok. Saya menghabiskannya sekitar
tiga minggu” ujarnya Rabu (21/1/2015).
Jadi Kirman menghabiskan menghabiskan dua
bungkus rokok atau sekitar 24 batang hanya
dengan Rp6.500. Cukup murah bukan.
Home » Artikel » Rokok Tingwe Jadi Pilihan Ketika Harga Rokok Bermerek Terus Naik
0 komentar
Silahkan Beri Komentar Saudara...