Selama bulan Ramadan, tingkat konsumsi
masyarakat justru bertambah ketika bulan ini
harusnya dimaknai sebagai waktunya menahan
diri. Di saat masyarakat harusnya bisa
menghemat pengeluaran karena tidak lagi
menjalani makan siang dan ngemil-ngemil sore
hari, pengeluaran justru meningkat. Bukannya
bisa menabung, malah tabungan yang dikuras.
Padahal, kalau di hitung secara matematis,
pengeluaran harusnya berkurang karena
anggaran makan siang dan ngemil-ngemil tidak
dipakai. Kalau dipikir pakai logika, ya harusnya
kalau anggaran tidak digunakan bisa ditabung,
bisa digunakan untuk beli buku pelajaran anak-
anak. Itu harusnya loh, kalau cuma dihitung
secara matematis dan pakai logika saja.
Lalu, kenapa pengeluaran di bulan Ramadan
malah jadi meningkat?
Perkara ini bukan cuma soal inflasi tahunan
yang selalu hadir saat Ramadan, tapi juga
terkait pola konsumsi masyarakat yang
meningkat setiap Ramadan. Setelah menahan
diri seharian tidak makan dan minum,
masyarakat menuntaskan puasanya dengan
mengkonsumsi makanan yang sebelumnya
jarang mereka makan. Misal ada anggaran
tambahan untuk beli gorengan, es campur,
kurma, dan sebagainya. Itu hanya contoh.
Belum lagi harus dikeluarkannya tambahan
anggaran untuk membeli keperluan-keperluan
lain untuk hari raya. Menyiapkan jajanan untuk
tamu di hari raya, menyiapkan angpau untuk
keponakan, beli baju baru untuk anak-anak,
tentu adalah hal yang mesti disiapkan. Karena
perkara hari raya bukan cuma soal hitung-
hitungan matematis dan logis, juga bukan soal
kaya miskin.
Begitu pula dengan rokok. Tidak mengeluarkan
anggaran untuk beli rokok saat puasa bukan
berarti bisa menghemat biaya. Toh kebutuhan
yang lain tetap banyak, jadi tidak serta merta
akan ditabung. Tidak ada jaminan jika tidak
belanja rokok uangnya akan ditabung, tidak
menjamin bisa dipakai untuk nyekolahin anak.
Perlu diingat kalau kebutuhan masyarakat itu
banyak. Bukan cuma soal beli rokok yang buat
mereka nggak mampu nyekolahin anak mereka.
Dalam hal seperti ini, kita perlu adil dalam
melihat berbagai keperluan masyarakat.
Karena, hidup tidak sematematis itu, hidup
tidak juga melulu soal logika.
Home » Artikel » Tidak Merokok Bukan Berarti Hemat
0 komentar
Silahkan Beri Komentar Saudara...